Sosok Tommy “History Maker” Pratama

Sosok Tommy “History Maker” Pratama – Indonesia tak disangkal lagi kini tengah menjadi magnet baru bagi artis mancanegara. Berbondong-bondong mereka datang untuk menggelar konser sambil bertemu fansnya. Tapi tahukah Anda di balik hingar-bingar konser, ada seseorang yang di dalam hatinya tersenyum puas ketika melihat si artis beraksi? Sesorang itu bukan fans, melainkan promotor, a history maker that make history comes true! inilah sekilas bincang kami dengan Sosok Tommy Pratama

Bagaimana awalnya Anda menjadi promotor?

sosok pria

sumber gambar : wanita.co.id

Original Productions sendiri terbentuk tahun 1991, tapi itu lebih ke one man show. Saya mulai dari nol. Dulu saya buat musik kampus lalu café to café dan banyak acara band lokal yang sudah saya buat. Band seperti Slank, Dewa, Gigi, dan sosok wanita hebat Ruth Sahanya. Saya masih ingat jaman dulu Gigi itu kontraknya saya bayar Rp. 1,5 juta dan itu masih dengan gitaris Baron. Nah Baron ini adalah teman SD saya, SD 01 Menteng, SD-nya Obama. Dulu kita mikir mimpi yang positif itu bisa menjadi kenyataan. Waktu SD, saya tuh suka gambar panggung dengan lighting-nya, terus ada band-nya seperti KISS, Queen, Deep Purple, dan Scorpion. Gara-gara ini saya distrap oleh guru yang paling galak. Waktu distrap teman-teman banyak yang meledek.Kemudian tahun 2002 ketika saya berhasil mendatangkan Deep Purple, Baron memeluk saya dan berkata, “Your dreams come true man. Masih inget kan dengan gambar-gambar yang elu buat?”. Saya pun langsung menangis. Dengan menjadi promotor ini, saya bersyukur karena bisa memiliki andil mengharumkan nama negara walaupun pemerintah belum menyentuh. Saya yakin usaha ini nggak akan sia-sia untuk generasi selanjutnya.

Bisnis ini sudah seperti berjudi di mana ada banyak uang yang dipertaruhkan hanya dalam sekali event. Bagaimana Anda menyiasati agar tidak terlalu merugi?

Kalau mau save, kita ada EO yang punya kreatif yang kalau menang pitching atau nggak ya sudah. Tapi kalau ngomong promotor, kita harus mengurus dari A sampai Z, Misalnya dapetin artisnya, cari sponsor, belum kalau di sini ada isu politik atau travel warning, jadi harus punya jantung 2 buah untuk menghadapinya hahaha. Menyiasatinya dengan selama kita eksis, konsisten, dan memegang trust, tidak ada yang kita takutkan. Di dalam bebarapa talk show  banyak anak muda yang berkata, “Tapi kan kami bukan Tommy Pratama yang punya daya juang.” Kemudian saya bilang masih banyak bidang yang bisa dimanfaatkan. Misalnya bisa jadi produsernya, agen artisnya, atau sound engineer-nya, lighting, bahkan fotografer yang benar-benar profesional. Di sini sound engineer yang bagus kan masih jarang. Satu saat dia megang Dewa, besoknya dia pegang acara dangdut, makanya lucu kan? Kalau band luar, semua sudah bawa sound engineer sendiri yang rata-rata sudah ikut selama 10 hingga 30 tahun. Sound engineer band Deep Purple sudah ikut selama 30 tahun. Bayangkan betapa loyalnya kan? Itu yang penting, konsisten dan loyal. Plus kalau kerja karena suka kan itu mengasyikan.  Lagipula persaingan dengan promotor lain yang ada di sini cukup sehat dan fair kok.

Sebagai promotor Anda cukup idealis dengan mendatangkan band-band seperti Uriah Heep, Deep Purple, Megadeth, Fire House, Toto yang notabene fansnya beda dengan band mainstream. Kenapa?

Personal taste tentunya hahaha. Dan pastinya saya lihat loyalitas marketnya kuat. Hebatnya Indonesia, didatangkan apa saja marketnya ada. Anda mendatangkan Bollywood, marketnya ada. Datengin Shaolin Cina atau sirkus, marketnya ada. Hebatkan? Begitu juga dengan banyak franchise majalah yang buka di sini kan? Ketika kita tanya ke mereka, “Apakah mereka berani datang ke Indonesia?” Dijawab, “Kenapa musti takut? Kita membawa musik perdamaian. Music is the language of the world.”

Kami yakin artis pasti memiliki tabiat yang bermacam-macam. Nah ada pengalaman menarik yang tidak bisa dilupakan tentang kebiasaan para band ini?

Selama ini untungnya kita memiliki personal touch yang bagus. Karena begitu si artis mendarat approachkita harus warm welcome. Kalau dia sudah bad mood, pasti repot ke depannya. Seperti yang saya dengar ketika Smasing Pumpkins main dan hasilnya kurang memuaskan. Mungkin dari awal sudah tidak kepegang itu artisnya. Dia jadi cemberut karena ada sesuatu yang diinginkan tapi tidak dipenuhi. Personal touch itu penting. Contohnya band Fire House yang minta ke Jalan Surabaya atau waktu saya datangkan Holiday on Ice yang krunya hingga 100 orang. Sebelum datang, mereka bilang pengamanan masing-masing kru satu orang atau bis harus dikawal. Ya wajar karena mereka belum pernah datang ke sini sebelumnya. Begitu mendarat, mereka lihat ada banyak gerai internasional, bukannya negara yang sering mereka lihat di Geographic Channel – Kalimantan atau Borneo. Akhirnya mereka malah jalan sendiri dan minta extend 2 hari.  Kalau Scorpions senang jalan-jalan ke pasar. Sedangkan Toto membeli CD bajakan band mereka di Blok M. Dia coba 1 dan 2 CD, mutunya bagus lalu yang ada malah diborong hahaha.  Yang lucu lagi ketika Dave Mustaine main di Medan. Ia mencoba rendang yang tidak terlalu manis, yang ada malah ketagihan dan minta dibungkus. Basisnya, David Ellefson malah minta tambah ketika makan sop buntut. Bahkan saat tahun 2007 ketika rumah Dave Mustaine terbakar, saya sempat takut ia akan cancel konsernya, tapi yang ada malah ia tetap main di sini. Sampai detik ini yang saya tidak appreciate adalah band Dream Theater yang tidak memenuhi komitmennya. Mereka sudah sign kontrak, tapi karena travel warning tidak jadi datang. Saat itu waktu peristiwa Tsunami Aceh. Padahal Tsunaminya kan jauh. Itulah tadi sedikit bincang kami dengan Sosok Tommy Pratamasemoga bisa menjadi inspirasi para kaula muda saat ini.

Leave a Reply